TUGAS MAKALAH
PANGAN DAN GIZI HASIL TERNAK
“ GIZI TERAPAN”


DI SUSUN OLEH :
        
NAMA           : SUJOKO PURNOMO
                                      BP                   : 1110612243
                                      PARALEL      : 03


ILMU PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG/2013

KATA PENGANTAR

Puji beserta syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan kesehatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan baik. penulis  juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah PANGAN DAN GIZI HASIL TERNAK yang telah mengarahkan penulis untuk bisa menulis paper ini, seterusnya  kepada teman-teman yang juga berpartisipasi dalam menulis paper  ini.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari sempurna. Dan oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semuanya, sehingga paper ini bisa bermanfaat untuk yang mendatang.

                                                                                    Padang, 10 November 2013


Penulis









PEMBAHASAN


GIZI TERAPAN
Terapan merupakan pengembangan ilmu gizi yang berkaitan dengan kesehatan, kecerdasan, kebugaran dan produktifitas kerja, serta aplikasinya pada individu, keluarga dan masyarakat. 
RUANG LINGKUP GIZI TERAPAN
Gizi dalam Daur Kehidupan Gizi dan Kesehatan Gizi dan Kebugaran Gizi dan Produktifitas Kerja Gizi Olahraga Gizi Emergency Dietetik Penilaian Status Gizi Dietary Assesment
Gizi dalam Daur Kehidupan
Gizi dalam daur kehidupan membahas tentang gizi pada pertumbuhan dan kecakupan gizinya, contohnya seperti gizi pada bayi, gizi pada ibu hamil, dan gizi pada manula. • 5 nutrisi penting yang berperan dalam proses pertumbuhan, yaitu: 1. Kalsium 2. Serat 3. Potassium 4. Vitamin D 5. Vitamin E
1.      Gizi Pada Bayi
            Ada 5 kebutuhan gizi bayi yang harus dipenuhi agar tumbuh kembang bayi optimal,  yaitu: 1. Karbohidrat o Sumber : beras, beras merah, tepung maizena, tepung roti, macaroni, pasta, kentang, havermut. 2. Protein o Sumber : susu dan hasil olahannya (keju, krim dan yoghurt), daging (ternak, unggas, ikan), telur, tahu, tempe dan kacang-kacangan (kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah). 3. Lemak o Sumber : minyak sayur (terutama minyak jagung, minyak wijen, dan minyak bunga matahari), santan, mentega atau margarin. 4. Vitamin dan Mineral o Sumber : bayam, daun kangkung, brokoli, labu kuning, buncis muda, jagung, jamur merang,, kacang kapri, wortel, pisang, jeruk, tomat, papaya, semangka, alpukat, melon, pir, da n apel. 5. Air o Sumber : ASI, air putih matang, sari buah segar dan makanan yang berkuah
2.      Gizi Pada Ibu Hamil
Beberapa kebutuhan gizi yang penting selama masa hamil, yaitu: 1. Kalori 2. Protein 3.  Lemak 4. DHA (asam lemak dokosaheksaenoat) 5. Karbohidrat dan Serat 6. Vitamin dan Mineral 7. Vitamin B2 (Riboflavin) 8. Vitamin B12 9. Vitamin C 10. Vitamin D 11. Asam Folat 12. Zat Besi 13. Seng 14. Cairan 15. Garam


3.      Gizi Pada Manula
            Kebutuhan zat-zat gizi bagi manula secara umum, yakni: 1. Kalori 2. Protein 3. Lemak 4. Karbohidrat 5. Vitamin dan Mineral 6. Cairan
Gizi dan Kesehatan
Pada sepanjang kehidupan kita, gizi adalah sebagai unsur dasar yang dapat mempertahankan kehidupan dan menyediakan tenaga yang dibutuhkan oleh sel-sel sehingga berbagai jaringan dan organ-organ tubuh dapat melakukan berbagai tindakan yang terkoordinasi. Gizi yang sehat dan seimbang dan gaya hidup yang diperbaiki akan dapat mengatur dan meningkatkan kekebalan tubuh. • Dengan melakukan diet secara aktif untuk perawatan kesehatan dalam rangka melakukan pencegahan terhadap penyakit maka akan dapat diperoleh kondisi kesehatan dari gizi yang dikonsumsi sehingga dapat meningkatkan mutu dari kehidupan. 
Gizi dan Kebugaran
Mengkonsumsi makanan bergizi dan beraktivitas fisik secara teratur merupakan kebiasaan positif yang dapat meningkatkan kebugaran. • Makanan dan kebugaran sangat berkaitan erat dengan pola makan bergizi. Artinya, setiap makanan yang kita komsumsi harus mencukupi gizi yang dibutuhkan tubuh. • Kita perlu menerapkan Gizi Seimbang dengan mengkonsumsi berbagai bahan makanan dan menganut pola hidup sehat dengan berolahraga. • Pola makan sehat yang diikuti dengan kehidupan aktif dapat menurunkan resiko terserang penyakit jantung, kanker, diabetes, tekanan darah tinggi,stroke, kolesterol tinggi, obesitas dan osteoporosis.
Gizi dan Produktifitas Kerja
Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja, salah satu diantaranya adalah gizi. Banyak studi yang telah membuktikan kaitan antara gizi dan produktivitas kerja. Diantara faktor gizi yang telah banyak diteliti adalah peranan zat besi sebagai bahan vital untuk pembentukan haemoglobin dan vitamin B1 yang berperan dalam pembentukan energi dari karbohidrat.
Gizi Olahraga
Gizi olahraga adalah studi multidisiplin yang menggabungkan fisiologi latihan fisik, biokimia, fisiologi terapan, dan biologi molekuler. • Olahragawan harus mempunyai gizi yang sesuai untuk memperoleh kesehatan optimum dan kemampuan fisik sehingga memungkinkan mereka untuk bertahan dalam latihan fisik yang keras dan mampu mempertahankan penampilan yang baik selama pertandingan. • Pengertian dari gizi yang tepat adalah mengkonsumsi makanan dan cairan dalam jumlah memadai untuk menyediakan : 1. Bahan bakar (karbohidrat dan lemak) yang cukup sebagai sumber tenaga 2. Protein yang cukup untuk membangun, mempertahankan dan memperbaiki semua jaringan tubuh 3. Zat pengatur (vitamin dan mineral) yang cukup yang membantu proses metabolisme 4. Air

Dietetik
Ilmu diet adalah cabang ilmu gizi yang mengatur pemberian makan pada kelompok/perorangan dalam keadaan sehat/sakit dengan memperhatikan syarat gizi dan sosial ekonomi. • Diet adalah makanan dan minuman yang dikonsumsi orang secara teratur setiap hari dengan takaran jumlah dan jenis makanan sesuai dengan yang dibutuhkan dalam situasi tertentu, misalnya untuk menurunkan atau menaikkan berat badan. • Terapi diet adalah Bagian dari dietetika yang khusus memperhatikan penggunaan makanan untuk tujuan penyembuhan. • Tujuan terapi diet : 1. Memperoleh status gizi yang baik 2. Memperbaiki defisiensi gizi 3. Mengistirahatkan organ tubuh 4. Menyesuaikan asupan/intake dengan kemampuan tubuh 5. Mengubah berat badan bila diperlukan 
Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi adalah penilaian dari data yang didapatkan dengan menggunakan berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi atau individu yang beresiko atau dengan status gizi buruk. • Terdapat 3 cara untuk mengukur status gizi seseorang, yaitu: 1. Anthropometri (ukuran tubuh) Jenis parameternya adalah umur, berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas. 2. Biokimia Penilaian status gizi secara biokimia adalah pemeriksaan status gizi dengan pemeriksaan spesimen yang di uji di laboratoris yang dilakukan pada berbagai jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain darah, urin, tinja, hati, dan otot. 3. Klinis Penilaiannya didasarkan pada perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal-hal yang diperhatikan seperti rambut, kepala dan leher, mata, mulut, kulit, kuku, jantung.
Dietary Assesment (Penilaian Diet)
Berbagai metode penilaian diet didasarkan pada apa yang anda makan, berapa banyak yang telah dimakan dan seberapa sering itu dimakan. • Tujuan utama dilakukannya penelitian diet ini adalah untuk memperkirakan rata-rata jangka panjang asupan makanan tertentu atau nutrisi bagi suatu kelompok atau individu yang diteliti.









PENUTUP


KESIMPULAN
Gizi terapan ada beberapa ruang lingkup di antaranya adalah :
1.      Gizi dalam Daur Kehidupan
2.      Gizi dan Kesehatan
3.      Gizi Olahraga
4.      Gizi produktifitas kerja
5.      Gizi dan kebugaran
6.      Dietetik
7.      Penilaian Status Gizi
8.      Dietary Assesment (Penilaian Diet)

SARAN
·         Gizi adalah sesuatu yang sangat penting dalam tubuh , jadi pemenuhan gizi dala tubuh menjadi hal yang sangat perlu di perhatikan sekali agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit.
·         Agar harapannya paper ini dapat bermanfaat kepada pembaca dan bisa  di aplikasikan kepada kehidupan sehari-hari.
·         Tak ada gading yang  tak retak, jadi kritik dan saran demi kesempurnaan paper ini sangat lah di perlukan agar demi kesempurnaannya tugas ini dengan baik dan sesuai yang di harapkan.



PENGARUH ENZIM DALAM PANGAN


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Enzim merupakan senyawa berstruktur protein yang dapat berfungsi sebagai katalisator dan dikenal sebagai biokatalisator. Enzim berperan sebagai katalisator yang mengkatalisis reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam sistem biologis. Enzim dapat mengkatalisis sebuah reaksi seperti katalisator biasa, dan juga enzim tidak ikut bereaksi atau pun terurai menjadi produk reaksi.
Tanpa adanya enzim, kehidupan yang kita kenal tidak mungkin ada. Sebagai biokatalisator yang mengatur semua kecepatan semua proses fisiologis, enzim memegang peranan utama dalam kesehatan dan penyakit. .
Meskipun dalam keadaan sehat semua proses fisiologis akan berlangsung dengan cara yang tersusun serta teratur sementara homeostasis akan dipertahankan, namun keadaan homeostasis dapat mengalami gangguan yang berat dalam keadaan patologis.
Secara praktis, enzim banyak digunakan di berbagai bidang kegiatan. Produk yang dihasilkan oleh enzim sangat spesifik sehingga dapat diperhitungkan dengan mudah. 
Enzim menjadi primadona industri saat ini dan di masa yang akan datang karena melalui penggunaannya, energi dapat dihemat dan akrab dengan lingkungan. Saat ini penggunaan enzim dalam industri makanan dan minuman, industri tekstil, industri kulit dan kertas di Indonesia semakin meningkat.



BAB II
PEMBAHASAN

I. Enzim dan Katalis
Enzim adalah protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk reaksi-reaksi kimia didalam sistem biologi. Katalisator mempercepat reaksi kimia. Walaupun katalisator ikut serta dalam reaksi, ia kembali ke keadaan semula bila reeaksi telah selesai. Enzim adalah katalisator protein untuk reaksi-reaksi kimia pasa sistem biologi. sebagian besar reaksi tersebut tidak dikatalis oleh enzim.
Berbeda dengan katalisator nonprotein (H+, OH-, atau ion-ion logam), tiap-tiap enzim mengkatalisis sejumlah kecil reaksi, kerapkali hanya satu. Jadi enzim adalah katalisator yang reaksi-spesifik karena semua reaksi biokimia perlu dikatalis oleh enzim, harus terdapat banyak jenis enzim. Sebenarnya untuk hampir setiap senyawa organik, terdapat satu enzim pada beberapa organisme hidup yang mampu bereaksi dengan dan mengkatalisis beberapa perubahan kimia.
Walaupun aktivitas katalik enzim dahulu diduga hanya diperlihatkan oleh sel-sel yang utuh (karena itu istilah en-zyme, yaitu, “dalam ragi”), sebagian besar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa kehilangan aktivitas biologik (katalik)nya. Oleh karena itu, enzim dapt diselidiki diluar sel hidup. Ekstrak yang mengandung enzim dipakai pada penyelidikan reaksi-reaksi metabolik dan pengaturanya, struktur dan mekanisme kerja enzim dan malahan sebagai katalisator dalam industri pada sintetis senyawa-senyawa yang biologis aktif seperti hormon dan obat-obatan. Karena kadar enzim serum manusia pada keadaan patologik tertentu dapat mengalami perubahan yang nyata, pemerikasaan kadar enzim serum merupakan suatu alay diagnostik yang penting bagi dokter.

II. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Reaksi Enzim 
Perubahan suhu dan pH mempunyai pengaruh besar terhadap kerja enzim. Kecepatan reaksi enzim juga dipengaruhi oleh konsentrasi enzim dan konsentrasi substrat. Pengaruh aktivator, inhibitor, koenzim dan konsentrasi elektrolit dalam beberapa keadaan juga merupakan faktor-faktor yang penting. Hasil rekasi enzim juga dapat menghambat kecepatan reaksi. 

1. Pengaruh Suhu
Suhu rendah yang memdekati titik beku biasanya tidak merusak enzim. Pada suhu dimana enzim masih aktif, kenaikan suhu sebanyak 10OC, menyebabkan keaktifan menjadi 2 kali lebih besar (Q10=2). Pada suhu optimum reaksi berlangsung paling cepat. Bila suhu dinaikan terus, maka jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi. Enzim didalam tubuh manusia memiliki suhu optimum sekitar 37oC. Enzim organismemikro yang hidup dalam lingkungan dengan suhu tinggi mempunyai suhu optimum yang tinggi. 
Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai + 60oC. Ini disebabkan karena proses denaturasi enzim. Dalam beberapa keadaan, jika pemanaasan dihentikan dan enzim didinginkan kembali aktivitasnya akan pulih. Hal ini disebabkan oleh karena proses denaturasi masih reversible. pH dan zat-zat pelindung dapat mempengaruhi denaturasi pada pemanasan ini. 

2. Pengaruh pH 
Bila aktivitas enzim diukur pada pH yang berlainan, maka sebagian besar enzim didalam tubuh akan menunjukan aktivitas optimum antara pH 5,0-9,0, kecuali beberapa enzim misalnya pepsin(pH optimum = 2). Ini disebabkan oleh : 
Pada pH rendah atau tingi, enzim akan mengalami denaturasi.
Pada Ph rendah atau tinggi, enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik dengan akibat perubahan aktivitas enzim. 
Misalnya suatu reaksi enzim dapat berjalan bila enzim tadi bermuatan negatif (Enz-) dan substratnya bermuatan positif (SH+) : 
 EnzSH®Enz- + SH+ 
Pada Ph rendah Enz- akan bereaksi dengan H+ menjadi enzim yang tidak bermuatan. 
 Enz-H®Enz- + H+ 
Demikian pula pada Ph tinggi, SH+ yang dapat bereaksi dengan Enz-, maka pada Ph yang eroxid rendah atau tiggikonsentrasi efektif SH+ dan enz akan berkurang, karena itu kecepatan reaksinya juga berkurang. 

3. Pengaruh Konsentrasi Enzim 
Kecepatan rekasi enzim (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim [Enz]. Makin besar jumlah enzim makin cepat reaksinya (Lihat pada gambar). Dalam reaksinya Enz akan mengadakan ikatan dengan substrat S dan membentuk kompleks enzim-substrat, Enzs. EnzS ini akan dipecah menjadi hasil reaksi P dan enzim bebas Enz. 
Makin banyak Enz terbentuk, makin cepat reaksi ini berlangsung. Ini terjadi sampai batas tertentu.

4. Pengaruh Konsentrasi Substrat 
Bila konsentrasi substrat (S) bertambah, sedangkan keadaan lainya tetap sama, kecepatan reaksi juga akan meningkat sampai suatu batas maksimum V. Pada titik maksimum ini enzim telah jenuh dengan eroxide. 
Pada titik-titik A dan B belum semua enzim bereaksi dengan eroxide, maka pada A dan B penambahan eroxide S akan menyebabkan jumlah EnzS bertambah dan kecepatan reaksi v akan bertambah, sesuai dengan penambahan S. 
Pada titik C semua enzim telah bereaksi denagn eroxide, sehingga penambahan S tidak akan menambah kecepatan reaksi, karena tidak ada lagi enzim bebas.
Pada titik B kecepatan reaksi tepat setengah kecepatan maksimum. Konsentrasi eroxide yang menghasilkan setengah kecepatan maksimum dinamakan harga Km atau konstanta Michaelis.


5. Pengaruh Faktor-Faktor Lain 
Enzim dapat dirusak dengan pengocokan, penyinaran ultraviolet dan sinar-x, sinar-β dan sinar-γ. Untuk sebagian ini disebabkan karena oxidasi oleh eroxide yang dibentuk pada penyinaran tersebut. Kerja enzim juga dipengaruhi oleh adanya inhibitor seperti obata-obatan dan sebagainya

III. Keterlibatan Enzim dalam Bahan Pangan dan Mekanismenya
Enzim di alam telah digunakan sejak zaman dahulu untuk memproduksi produk-produk makanan, seperti keju, bir dan cuka. Berkembangnya proses fermentasi selama beberapa abad terakhir memungkinkan untuk produksi enzim semakin dimurnikan, baik persiapan skala kecil maupun skala besar. Aplikasi enzim dalam industri makanan sangat banyak dan beragam, umumnya untuk semua aplikasi makanan. 
Enzim bekerja dengan mengurangi energi aktivasi dari substrat tertentu. Mekanisme kerja enzim yaitu dengan terikat sementara ke substrat untuk membentuk sebuah kompleks enzim-substrat yang lebih tidak stabil dibanding substrat jika berdiri sendiri. Ini menyebabkan substrat mudah bereaksi. Dengan demikian substrat tereksitasi ke tingkat energi lebih rendah dengan membentuk produk-produk reaksi yang baru. Selama berlangsungnya reaksi, enzim dilepaskan dalam keadaan tidak berubah. Pelepasan enzim tetap utuh sehingga bisa terus bereaksi dan menyebabkan enzim tetap efektif meski dalam jumlah yang sangat kecil.
Kegiatan enzim dapat berlangsung dengan baik jika kondisi lingkungannya mendukung. Hal-hal yang mempengaruhi kerja enzim antara lain:
1) Temperatur
Kegiatan enzim akan meningkat bila suhu dinaikkan hingga 145o F, selanjutnya diatas suhu tersebut kegiatan enzim akan menurun sehingga akhirnya berhenti bekerja.
2) Ph
Pada bahan yang bersifat asam yaitu antara Ph 4,6 - 4,8 akan terbentuk maltose dalam jumlah besar.
3) Jangka waktu
Jangka waktu juga memegang peranan penting terhadap kegiatan enzim, makin lama enzim bereaksi dalam suatu bahan makin banyak produksi yang dapat dicapai, sehingga enzim akan terus bekerja selama ada bahan tempat enzim tersebut bereaksi.

Dalam industri makanan atau minuman enzim banyak digunakan untuk menghasilkan atau meningkatkan kualitas dan keanekaragaman produk. Beberapa contoh produk yang memanfaatkan enzim antara lain keju, yoghurt, dan lain sebagainya (Philips, 2009). Industri makanan menggunakan enzim telah banyak dikembangkan oleh para ahli dengan memanfaatkan sifat-sifat yang dimiliki oleh enzim. Sifat penting enzim dalam bidang pangan yang mendukung antara lain: 
1) Dalam buah dan sayuran yang masih berada pada pohonnya, enzim mengendalikan reaksi-reaksi yang terkait dengan pematangan. 
2) Setelah dipanen, selama dilakukan dengan panas, zat kimia, atau dengan cara-cara lain, enzim terus melanjutkan proses pematangan, pada banyak kasus sampai pada titik pembusukan, seperti buah melon yang lunak dan pisang yang terlewat masak
3) Enzim memasuki banyak reaksi biokimia dalam makanan, sehingga bertanggung jawab dalam perubahan rasa, warna, tekstur, dan sifat-sifat gizi
4) Proses pemanasan dalam produksi makanan dirancang tidak hanya untuk menghancurkan mikroorganisme tetapi juga untuk menonaktifkan enzim-enzim makanan sehingga menambah stabilitas penyimpanan makanan.
5) Ketika mikroorganisme ditambahkan ke dalam makanan untuk tujuan fermentasi, agen-agen penting adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme-mikroorganisme tersebut.
6) Enzim-enzim juga bisa diekstrak dari material-material biologis dan dimurnikan sampai tingkat kemurnian tinggi. Preparasi enzim komersial seperti ini bisa ditambahkan ke dalam makanan untuk mengurai starch, melunakkan daging, menjernihkan anggur, mengkoagulasi protein susu, dan menghasilkan berbagai perubahan yang diinginkan lainnya.

Dalam segmen bioteknologi tradisional dan skala kecil, seperti berbagai industri makanan tingkat rumah tangga, pengetahuan empiris tentang enzim diwariskan secara turun-temurun dan biasanya bercampur dengan pengetahuan tentang penggunaan praktis mikroorganisme, yang secara umum dinamai ragi. Manfaat enzim dalam peragian adalah:
1) Dari bahan tepung dan sirup malt, enzim diastase berguna mencairkan pati, dan mengubah pati cair menjadi gula malt (jelai). 
2) Dari bahan tepung dan sirup malt, enzim protease berguna melembutkan gluten sehingga adonan roti dapat mengembang.
3) Dari sumber ragi, enzim invertase dapat mengubah gula tebu menjadi gula campuran (invert sugar).
4) Dari sumber ragi, enzim maltase dapat mengubah gula malt menjadi gula dekstrose. 
5) Dari sumber ragi, enzim zymase dapat mengubah gula campuran dan gula dektrose menjadi gas karbondioksida yang mengembangkan adonan dan alkohol yang hilang dari dalam roti selama proses pembakaran atau oven. 

IV. Enzim dalam Industri Makanan dan Minuman
Dalam bidang bioteknologi enzim merupakan salah satu produk yang banyak digunakan atau diaplikasikan untuk keperluan industri seperti industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik dan lain sebagainya. Beberapa contoh jenis enzim yang umum dan banyak digunakan dalam industri makanan dan minuman antara lain :

1) Rennet
Rennet adalah enzim yang digunakan dalam proses pembuatan keju (cheese) yang terbuat dari bahan dasar susu. Susu adalah cairan yeng tersusun atas protein yang terutama kasein yang dapat mempertahankan bentuk cairnya. Rennet merupakan kelompok enzim protease yang ditambahkan pada susu pada saat proses pembuatan keju. Rennet berperan untuk menghidrolisis kasein terutama kappa kasein yang berfungsi mempertahankan susu dari pembekuan. Enzim yang paling umum yang diisolasi dari rennet adalah chymosin. 

Chymosin dapat diisolasi dari beberapa jenis binatang, mikroba atau sayuran. Chymosin yang berasal dari mikroorganisme lokal atau asli yang belum mendapat rekayasa genetik dalam aplikasi pembuatan keju atau cheddar kadang-kadang menjadi kurang efektif.

2) Laktase
Laktase adalah enzim likosida hidrolase yang berfungsi untuk memecah laktosa menjadi gula penyusunnya yaitu glukosa dan galaktosa. Tanpa suplai atau produksi enzim laktase yang cukup dalam usus halus, akan menyebabkan terjadinya lactose intolerant yang mengakibatkan rasa tidak nyaman diperut (seperti kram, banyak buang gas, atau diare) dalam saluran cerna selama proses pencernaan produk-produk susu. Secara komersial laktase digunakan untuk menyiapkan produk-produk bebas laktosa seperti susu. Ini juga dapat digunakan untuk membuat es krim dalam pembuatan cream dan rasa produk yang lebih manis. Laktase biasanya diisolasi dari yeast (Kluyveromyces sp.) dan fungi (Aspergillus sp.). 

3) Katalase
Katalase adalah enzim yang dapat diperoleh dari hati sapi (bovine livers) atau sumber mikrobial. Katalase digunakan untuk mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan molekul oksigen. 
H2O2 + H2O2 2H2O + O2
Enzim ini digunakan secara terbatas pada proses produksi keju. Hidrogen peroksida selain digunakan sebagai agen bleaching atau pemutih di industri kertas atau tekstil, juga digunakan untuk melindungi buah dan sayuran segar dari bakteri patogen seperti Salmonella atau E.coli, pasteurisasi produk susu, ataupun digunakan dalam sterilisasi karton pembungkus jus atau susu segar sehingga tak perlu pendinginan. 

4) Lipase
Lipase digunakan untuk memecah atau menghidrolisis lemak susu dan memberikan flavour keju yang khas. Flavour dihasilkan karena adanya asam lemak bebas yang diproduksi ketika lemak susu dihidrolisis. Selain pada industri pengolahan susu Lipase juga digunakan pada industri lainnya.
Mikroba penghasil lipase antara lain adalah Pseudomonas aeruginosa, Serratia marcescens, Staphylocococcus aureus dan Bacillus subtilis. Enzim lipase ini digunakan sebagai biokatalis untuk memproduksi asam lemak bebas, gliserol, berbagai ester, sebagian gliserida, dan lemak yang dimodifikasi atau diesterifikasi dari substrat yang murah, seperti minyak kelapa sawit. Produk-produk tersebut secara luas digunakan dalam industri farmasi, kimia dan makanan. 
Di samping itu, enzim lipase dapat digunakan untuk menghasilkan emulsifier, surfaktant, mentega, coklat tiruan. Aplikasi enzim lipase untuk sintesis senyawa organik semakin banyak dikembangkan, terutama karena reaksi menggunakan enzim bersifat regioselektif dan enansioselektif. Aktifitas katalitik dan selektivitas enzim tergantung dari struktur substrat, kondisi reaksi, jenis pelarut, dan penggunaan air dalam media. Contohnya biosintesis senyawa pentanol, hexanol & benzyl alkohol ester, serta biosintesis senyawa terpene ester menggunakan enzim lipase yang berasal dari Candida antartica dan Mucor miehei. Sampai saat ini lipase yang banyak digunakan untuk keperluan reaksi sintesis adalah lipase komersial dari Rhizomucor miehei dan Pseudomonas sp.

5) Protease
Protease adalah enzim yang berfungsi untuk menghidrolisis ikatan peptida dari senyawa-senyawa protein dan diurai menjadi senyawa lain yang lebih sederhana (asam amino). Protease yang dipakai secara komersial seperti serine, protease, dan metalloprotease biasanya berasal dari Bacillus subtilis yang mempunyai kemampuan produksi dan sekresi enzim yang tinggi. 
Enzim protease berfungsi melembekkan, melembutkan atau menurunkan gluten yang membentuk protein. Contoh protease yang dapat dimanfaatkan adalah bromelin dan papain sebagai bahan pengempuk daging. Enzim protease dapat digunakan sebagai pelembut daging bagi daging yang liat supaya mudah dikunyah, dan membantu menanggalkan kulit ikan dalam industri pengetinan ikan. 

6) Enzim Papain
Manfaat utama papain adalah pelunak daging. Daging dari hewan tua dan bertekstur bisa menjadi lunak. Pada pH, suhu, dan kemurnian papain tertentu daya pemecahan protein yang dimiliki papain dapat diintensifkan lebih jauh menjadi kegiatan hidrolisis protein.
Manfaat lainnya adalah bahan perenyah pada pembuatan kue kering seperti crackers, bahan penggumpal susu pada pembuatan keju, bahan pelarut glatin, dan bahan pencuci lensa. Buah pepaya juga menghasilkan pektin. Industri makanan dan minuman telah menggunakan pektin sebagai bahan pemberi tekstur pada roti dan keju, bahan pengental dan stabilizer pada minuman sari buah, bahan pokok pembuatan jelly, jam, dan marmalade. 

7) Amilase
Amilase merupakan enzim yang berfungsi untuk menghidrolis amilum (pati) menjadi gula-gula sederhana seperti dekstrin dan glukosa. Enzim amilase digunakan untuk menghidrolisis pati menjadi suatu produk yang larut dalam air serta mempunyai berat molekul rendah yaitu glukosa. Enzim amilase dapat digunakan dalam proses pembuatan biskuit, minuman beralkohol, dan pembuatan sirup glukosa. Namun, pada umumnya amilase banyak digunakan pada industri minuman misalnya pembuatan High Fructose Syrup (HFS). Enzim amilase dapat diproduksi oleh berbagai jenis mikroorganisme terutama dari keluarga Bacillus, Psedomonas dan Clostridium. Bakteri potensial yang akhir-akhir ini banyak digunakan untuk memproduksi enzim amilase pada skala industri antara lain Bacillus licheniformis dan B.stearothermophillus. Bahkan penggunaan B.stearothermophillus lebih disukai karena mampu menghasilkan enzim yang bersifat termostabil sehingga dapat menekan biaya produksi.

Enzim amilase juga dapat digunakan untuk menghilangkan kanji dalam buah-buahan dan cocoa saat proses pengejusan buah-buahan dan coklat, dan sebagai bahan tambahan dalam proses pencairan kanji sebelum penambahan malt dalam industri alkohol.
Pada industri pembuat pemanis misalnya, enzim amilase dan glucose isomerase hipertermofilik akan sangat membantu proses pemecahan pati (starch) menjadi oligomer lalu menjadi fruktusa atau glukosa dalam bentuk sirup. Proses ini semua dilakukan pada suhu sangat tinggi dan ada pula proses pengadukan, sehingga menuntut enzim yang mendegradasi pati atau mengubah gula oligomer menjadi glukosa atau fruktosa harus sangat stabil dan aktif di suhu panas. 
Dalam keperluan proses kontrol produksi makanan jadi atau olahan misalnya, kadar pelezat asam dalam bentuk monosodium glutamate (MSG) sangat penting. Karena kadar MSG yang berlebihan dapat menyebabkan gejala sakit kepala yang dikenal dengan Chinese food syndrome.

8) Enzim Xylanase
Xilanase juga dapat digunakan untuk menghidrolisis xilan (hemiselulosa) menjadi gula xilosa. 
Xilan banyak diperoleh dari limbah pertanian dan industri makanan. Pengembangan proses hidrolisis secara enzimatis merupakan prospek baru untuk penanganan limbah hemiselulosa (Biely, 1985; Rani dan Nand, 1996; Beg et al., 2001). Gula xilosa banyak digunakan untuk konsumsi penderita diabetes. Di Malaysia gula xilosa banyak digunakan untuk campuran pasta gigi karena dapat berfungsi memperkuat gusi, Van Paridon et al. 1992 telah melakukan penelitian pemanfaatan xilanase untuk campuran makanan ayam boiler, dengan melihat pengaruhnya terhadap berat yang dicapai dan efisiensi konversi makanan serta hubungannya dengan viskositas pencernaan. 
Hal yang sama juga dilakukan oleh Bedford dan Classen (1992), yang melaporkan bahwa campuran makanan ayam boiler dengan xilanase yang berasal dari T. longibrachiatum ternyata mampu mengurangi viskositas pencernaan, sehingga meningkatkan pencapaian berat dan efisiensi konversi makanan.
Xilanase dapat juga digunakan untuk menjernihkan juice, ekstraksi kopi, minyak nabati, dan pati (Wong dan Saddler, 1993). Kombinasi dengan selulase dan pektinase dapat untuk penjernihan juice dan likuifikasi buah dan sayuran (Beg et al., 2001). Efisiensi xilanase dalam perbaikan kualitas roti yang telah dilakukan, yaitu xilanase yang berasal dari Aspergillus niger var awamori yang ditambahkan ke dalam adonan roti untuk menghasilkan kenaikan volume spesifik roti dan untuk lebih meningkatkan kualitas roti maka perlu dilakukan kombinasi penambahan amilase dan xilanase (Maat et al., 1992).

9) Enzim Selulase
Enzim selulase dapat digunakan untuk melembutkan sayur-sayuran dengan mencernakan sebagian selulosa sayur itu, mengeluarkan kulit dari biji-bijian seperti gandum, mengeluarkan agar-agar dari rumput laut dengan menguraikan dinding sel daun rumput dan membebaskan agar-agar yang terkandung dalamnya.

V. Enzim Komersial dan Aplikasinya
Terkadang kita ingin membatasi tingkat aktivitas sebuah enzim yang ditambahkan tetapi tidak bisa dengan mudah menonaktifkan enzim tanpa mempengaruhi makanan. Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah dengan mengimobilisasi enzim melalui perlekatan ke permukaan sebuah membran atau objek lembam (iner) lainnya yang bersentuhan dengan makanan yang sedang diolah. Dengan cara ini, waktu reaksi bisa diregulasi tanpa enzim menjadi bagian dari makanan. Enzim-enzim yang diimobilisasi seperti ini sekarang digunakan untuk menghidrolisis laktosa susu menjadi glukosa dan galaktosa, untuk mengisomerisasi glukosa dari starch jagung menjadi fruktosa, dan pada berbagai proses makanan industri lainnya.





BAB III
KESIMPULAN


Dari hasil pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Enzim merupakan katalisator protein yang mengatur kecepatan berlangsungnya berbagai proses fisiologis. Sebagai katalisator, enzim ikut serta dalam reaksi dan kembali ke keadaan semula bila reeaksi telah selesai.
2. Temperatur, pH, konsentrasi substrat, konsentrasi enzim, inhibitor mengubah kecepatan reaksi yang dikatalisis enzim dengan implikasi yang penting.
3. Dalam industri makanan atau minuman enzim banyak digunakan untuk menghasilkan atau meningkatkan kualitas dan keanekaragaman produk melalui mekanisme fermentasi, peragian dan sejenisnya.

dokterunggas.com

HEAT STRESS / STRESS KEPANASAN PENYEBAB FCR TINGGI, BB RENDAH DAN KEMATIAN YANG TINGGI

Cuaca merupakan faktor  yang sangat  mempengaruhi produksi usaha peternakan dalam hal ini adalah peternakan ayam, oleh karena itu diera peternakan yang modern dan cuaca yang tidak menentu saat ini banyak peternak tertarik untuk membuat kandangnya menjadi kandang tertutup atau close house sehingga kondisi ayam tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca. Akan tetapi, membangun kandang close hose membutuhkan dana yang tidak sedikit dan bagi sebahagian peternak di  Indonesia  hal itu masing sangat memberatkan. Lantas, bagaimana cara mengatasi perubahan cuaca yang ekstrim seperti musim panas yang panjang seperti yang sedang dialami di pulau jawa dan sekitarnya? Untuk mengetahuinya, silahkan baca informasi ini sampai selesai yah, 

Para pembaca sekalian, seperti yang kita ketahui bahwa pada kondisi musim panas yang berkepanjangan seperti ini  ayam broiler/pedaging  maupun ayam layer/petelur sangat rentan terhadap yang namanya heat stress atau stress karena panas. Heat stress atau stress karena panas  adalah suatu gejala yang terjadi pada ayam merasakan panas berlebih pada tubuhnya, jadi terkadang meskipun cuaca diluar tidak terlalu panas namun bisa saja ayam mengalami heat stress, oleh karena itu kita jangan terlalu berpatokan pada thermometer ruangan yang ada dalam kandang namun alat pengukur suhu, namun  yang kita pakai sebagai indicator atau pengukur adalah ayam itu sendiri. Hal ini disebabkan jika ayam mengalami panas yang berlebih maka hal itu akan dapat kita ketahui dari perilaku ayam itu sendiri.

Para peternak sekalian, musim panas yang berkepanjangan pada sebagian daerah di Indonesia jelas membawa dampak bagi usaha peternakan dalam hal ini peternakan ayam pedaging maupun ayam petelur. Hal yang dirasakan peternak adalah tingkat produksi ayam yang tidak maksimal seperti tingkat kematian yang tinggi, berat badan rendah, FCR tinggi, kandang menjadi lebih bau karena kotoran basah (padahal tidak ada hujan), dan serangan penyakit yang terkadang berujung pada kematian yang tinggi. Mengapa hal itu bisa terjadi, jawaban yang paling mungkin adalah karena heat stress atau stress akibat panas.

Para peternak sekalian, sebagaimana telah saya sebutkan di atas bahwa, heat stress dapat menyebabkan beberapa  seperti  berat badan yang rendah , FCR yang tinggi, kandang menjadi lebih bau, tigginya kejadian CRD dan berujung pada deplesi yang tinggi. Hal tersebut sangat berkaitan karena saat ayam mengalami heat sress maka ayam akan lebih banyak minum dibandingkan kondisi bisaanya. Proses ini dilakukan oleh ayam untuk mendinginkan suhu tubuhnya yang panas. Akibat dari banyak minum ini maka pakan yang masuk ke saluran pencernaan tidak dapat diserap secara maksimal dan keluar bersama feces sehingga akan banyak kita lihat pakan yang masih utuh keluar bersama feces. Aktifitas ayam yang banyak minum ini juga menyebabkan kotoran ayam menjadi lebih cair. Nah, pakan yang tidak tercerna sempurna yang keluar bersama feces yang yang cair tadi jelas membuat kondisi kandang menjadi lembab dan berbau busuk yang akibatnya dapat memicu gangguan pernafasan pada ayam sehingga banyak kita temui dilapangan tidak ada hujan namun koq ayam seperti kena pilek. Selain itu, yang membuat ayam kita lebih gampang sakit adalah ketidakcukupan atau defiensi atau kekurangan nutrisi akibat pakan yang masuk tidak terserap dengan baik. Kekurangan nutrisi akibat heat stress ini juga dapat menimbulkan kegagalan vaksinasi artinya vaksin yang diberikan tidak melindungi terhadap serangan penyakit. 

Para pembaca sekalian, lantas pertanyaanya bagaimana cara mengatahui ayam kita mengalamai stress panas dan bagaimana cara mencegah serta mengatasinya? Nah, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa kita tidak bisa berpatokan pada thermometer ruangan yang ada dikandang namun kita melihat ayamnya hal ini karena ayam akan menunjukan tanda awal sebelum terkena heat stress. Sebenarnya tanda awal ini merupakan upaya ayam supaya tidak terjadi panas yang berlebihan dalam tubuhnya. Adapun tanda awal ini bisa dikelompokan menjadi 4 yaitu :

    1. Radiasi : ini ditandai dengan ayam melebarkan sayap dan mengangkat bulu-bulunya. Jika Anda bingung        seperti apa, silahkan Anda membayangkan induk ayam kampung yang sedang menjaga anak-anaknya           saat ada sesuatu yang membahayakan anak-anaknya
    2. Konduksi : ayam merapat kepada benda-benda padat seperti litter atau tembok. Tujuannya agar panas         yang ada pada tubuhnya dapat sedikit  berpindah pada benda tersebut.
    3. Konveksi : ini ditandai dengan ayam yang banyak minum agar suhu tubuhnya turun. Jadi kalo anda lihat         koq stok air cepat sekali habis dan pakan banyak sisa, waspadalah!
   4. Evaporasi : ini ditandai dengan gejala gasping dan painting atau ayam menggap-menggap. Ini merupakan        evaporasi lewat paru-paru.

Nah, bagaimana supaya stress akibat panas tersebut tidak terjadi? Saran saya pribadi (Adapun saran saya ini mungkin bertentangan dengan pendapat lain namun itu merupakan hal yang wajar, karena setiap orang akan berpendapat berdasarkan keilmuan dan pengalamannya, dan berdasarkan keilmuan dan pengalaman saya yang tidak seberapa saran saya adalah :

Usahakan membangun kandang dari timur ke barat. Memang banyak pendapat juga yang menyebutkan bahwa sebaiknya membangun kandang dari utara ke selatan. Akan tetapi, kandang utara-selatan hanya cocok di eropa atau Negara yang mempunyai 4 musim dimana musim panas cukup singkat, berbeda dengan Indonesia yang musim panasnya cukup lama, apalagi sudah setahun penuh rasanya tidak tidak turun musim hujan. Dengan kondisi demikian Jika kita membangun kandang utara-selatan maka pada pagi hari ayam kepanasan dan sore hari juga.

Sering melihat keadaan ayam. Hal ini agar kita dapat melihat 4 tanda awal yang sudah saya sebutkan sebelumnya (radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi) sehingga kita dapat cepat bertindak. Yang perlu kita ingat juga, bahwa bisaanya kalo suhu siang hari sangat panas,bisaanya suhu menjelang subuh dingin banget, jadi kadang ayam malah banyak mati pada malam hari karena kedinginan (saling tindih ataupun bisa karena kekurangan oksigen). Perbanyak ventilasi, buka semua tirai pada saat cuaca panas. Perhatikan litter. Karena litter yang sudah tidak layak dapat menjadi sumber panas tanpa kita sadari. Menggunakan air hujan buatan. Bentuknya bisa macam-macam, bisa dengan kita memasang kran berputar yang bisaanya dipakai untuk siram rumput dilapangan atau bisa dengan modifikasi lain sesuai kondisi dan situasi masing-masing.

Bisa membuat kolam di lingkungan kandang, lebih bagus kalo kolam lele, jadi bisa sekalian kalo ada ayam yang mati bisa jadi pakan lele. Tapi harus waspada, jangan sampai pernah kolam tidak berisi karena bisa jadi tempat kembangbiak nyamuk yang akan memicu malaria like disease. Oiya, banyak yang bertanya tentang bagaimana hukumnya (bagi umat muslim) mengkonsumsi lele yang diberi makan bankai ikan? 
   
Memberikan suplemen bernutrisi tinggi seperti Improlin-G yang akan meminimalisir efek stress akibat panas dan membantu mensuplai nutrisi sehingga berat badan tidak jeblok dan FCR tidak meroket. Sekedar info, beberapa hari lalu saya mendapat testimono dari seorang peternak yang bernama pak Kolik Nur Abidin d/a. Ds Jogorogo, Kec.Jogorojo Ngawi yang menyebutkan ayamnya panen pada umur 33 hari dengan berat rata-rata 2,109 kg

Memberikan suplemen imunitas seperti imunose untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan sekaligus dapat membuat feces menjadi lebih kering sehingga kandang tidak berbau menyengat. Jika perlu anda juga dapat menyemprotkan protexol yang mampu menghilangkan bau feces sebanyak 90% dalam waktu singkat
   
MILK FEVER

Milk fever dapat disebut juga:
  • paresis puerpuralis,
  • hypocalcaemia,
  • calving paralysis,
  • parturient paralysis,
  • parturient apoplexy
Milk fever
adalah penyakit metabolisme pada hewan yang terjadi pada waktu atau segera setelah melahirkan yang manifestasinya ditandai dengan penderita mengalami depresi umum, tak dapat berdiri karena kelemahan bagian tubuh sebelah belakang dan tidak sadarkan diri (Hardjopranjoto 1995).
Hypocalcaemia yaitu suatu kejadian kelumpuhan yang terjadi sebelum, sewaktu atau beberapa jam sampai 72 jam setelah partus (Achjadi tidak dipublikasikan).  Biasanya kejadian ini menyerang sapi pada masa akhir kebuntingan atau pada masa laktasi.  Kasus ini sering dialami sapi yang sudah melahirkan yang ketiga kalinya sampai yang ketujuh (Girindra 1988).
Tetapi di beberapa daerah ternyata penyakit ini ditemui juga pada sapi-sapi dara yang produksi tinggi dan terjadi ditengah-tengah masa laktasi.  Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa biasanya kasus ini terjadi pada sapi perah setelah beranak empat kali atau lebih tua, jarang terjadi pada induk yang lebih muda atau sebelum beranak yang ketiga.
Subronto (2001) mengatakan bahwa beberapa kejadian disertai syndrom paresis yang terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa bulan sesudah melahirkan.  Pada kasus yang ditemukan dilapangan terjadi pada sapi perah yang melahirkan ketiga, tetapi berdasarkan anamnese (cerita) dari pemiliknya pada partus yang kedua juga pernah mengalami kasus ini.
Ditinjau dari bangsa sapi, bangsa Jersey paling sering menderita penyakit ini disusul kemudian sapi Holstain Frisian dan bangsa sapi yang lain.  Di negara yang maju peternakan sapi perahnya kejadian penyakit mencapai 3-10% dan kadang-kadang di dalam satu peternakan dapat berupa sebagai suatu wabah   dengan angka kejadian mencapai 90% dari populasi sapi perah dikelompoknya.  Kasus ini dapat bersifat habitualis artinya penyakit paresis puerpuralis ini pada induk sapi dapat terulang pada partus berikutnya.
Penyebab yang jelas belum ditemukan, tetapi biasanya ada hubungannya dengan produksi yang tinggi secara tiba-tiba pada sapi yang baru melahirkan.    Sapi yang menderita penyakit ini di dalam darahnya dijumpai adanya hipocalcaemia yaitu penurunan kadar kalsium yang cepat di dalam serum darah penderita (Hardjopranjoto 1995; Girindra 1988; Fraser 1991; Wondonga 2002; Carlton 1995).
Subronto (2001) mengatakan bahwa dahulu gangguan ini diduga disebabkan oleh adanya bendungan pada sistem syaraf, alergi, penyakit neuro muskuler, penyakit keturunan, penyakit ketuaan, penyakit infeksidan penyakit defisiensi makanan yang menyangkut kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin D dan protein.
Pada keadaan normal kadar Ca dalam darah adalah 9-12 mgram persen.  Pada keadaan subklinis kadar Ca dalam darah 5-7 mgram persen dan pada kejadian hypocacaemia kadar ion Ca dalam darah 3-5 mgram persen.
Girindra (1988) mengatakan bahwa jumlah kalsium yang terdapat dalam darah dan cairan ekstra sel hanya kira-kira 8 gram, sedangkan untuk keperluan laktasi dalam satu hari dibutuhkan 3 x jumlah itu.  Jadi kekurangan kalsium jelas merupakan predisposisi kejadian hypocalcaemia.
Dalam kenyataannya hypocalcaemia sering diikuti dengan hipofosfatemia, hipermagnesemia atau hipomagnesemia dan hiperglicemia.  Penurunan kadar kalsium dan posfor ini adalah sebagai akibat dari pemakaian mineral terutama kalsium dan posfor secara besar-besaran untuk sintesa air susu dalam ambing dalam bentuk kolostrum secara tiba-tiba menjelang kelahiran.
Subronto (2001) mengatakan bahwa adanya hypocalcaemia akan diikuti oleh perubahan kadar fosfor dan gula dalam darah.  Kadar fosfor plasma yang rendah diakibatkan oleh penurunan penyerapan fosfor anorganik dari usus.  Mungkin pula disebabkan oleh meningkatnya sekresi parathormon, hingga ekskresi fosfor meningkat.
Pada sapi yang baru melahirkan terbukti kadar hormon tersebut meningkat, sebanding dengan penurunan kadar fosfat di dalam darahnya.  Kenaikan parathormon akan diikuti oleh kenaikan pembongkaran kalsium dalam tulang, yang dalam hal ini dapat dilihat dari ada tidaknya kenaikan hidroksi prolin di dalam kemih.
Hidroksi prolin merupakan hasil pemecahan kalogen.  Dalam hal ini kadar magnesium dalam serum darah mempengaruhi  gejala yang timbul pada sapi perah.  Jika kadar magnesium dalam serum normal atau lebih tinggi maka gejala tetani dan eksitasi akibat hipocalcaemia akan diikuti oleh relaksasi, otot lemah, depresi dan koma.
Jika kadar magnesium rendah dalam serum maka akan terlihat kekejangan selama beberapa waktu. Berkurangnya kadar magnesium dalam plasma darah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain karena:
pembebasan magnesium bersama air susu yang besarnya 0.1 g dan berkurangnya penyerapan magnesium lewat dinding usus.  Gangguan terhadap metabolisme karbohidrat juga dapat menyebabkan berkurangnya kadar magnesium dalam plasma darah.
Bila kadar magnesium dalam serum hewan yang menderita hypocacaemia tidak menurun atau lebih tinggi maka gejala eksitasi dan tetani akan segera diikuti oleh relaksasi.  Otot-otot kelihatan melemah, depresi dan pada akhirnya koma.  Perbandingan Ca:Mg bisa berubah dari 6:1 menjadi 2:1 dan dalam perbandingan ini efek narkase magnesium nyata dapat dilihat.
Hypocalcaemia dapat menghambat ekskresi insulin sehingga pada kasus ini biasanya selalu diikuti kenaikan kadar glukosa darah (Girindra 1988).  Subronto (2001) mengatakan bahwa kenaikan moderat kadar glukosa dalam darah (hiperglisemia) dijumpai pada sapi yang baru melahirkan dan hewan tidak memperlihatkan gejala klinis.  Pada sapi yang menderita paresis berat kadar glukosanya dapat mencapai 160 mg/dl.
Hal ini disebabkan oleh terhambatnya sekresi insulin oleh karena turunnnya kadar kalsium darah.  Selain itu hyperglisemia juga dapat disebabkan oleh meningkatnya produksi hormon glukagon yang dihasilkan oleh sel A dari pankreas dan berfungsi untuk menaikkan kadar glukosa darah serta meningkatkan pembongkaran glikogen hati.
Glukagon juga mampu merangsang  enzim adenil siklase di dalam hati, hingga proses glikogenolisis ditingkatkan dan menghambat sintesa glikogen dari UDP-glukosa (UDP, uridin difosfat).  Kadang-kadang dalm milk fever juga terjadi penurunan kadar potassium.  Penurunan kadar ion K tersebut sebanding dengan lamanya sapi tidak dapat berdiri.  Makin lama berbaring makin besar penurunan ion K.  Sapi yang terlalu lama berbaring oleh rusaknya sel-sel otot akan diikuti kenaikan kadar SGOT.
Pada kasus milk fever kadang-kadang kenaikan enzima tersebut mencapai 10%. Kemungkinan faktor genetis yang berhubungan dengan produksi susu yang tinggi merupakan penyebab lain dari penyakit paresis puerpuralis.  Pada sapi perah yang pernah menderita penyakit ini dapat menurunkan anak yang juga mempunyai bakat menderita paresis puerpuralis.
Paresis puerpuralis biasanya terjadi 18-24 jam post partus.  Akan tetapi dari laporan bahwa penyakit ini dapt juga terjadi beberapa jam sebelum partus atau beberapa hari setelah partus.  Penyakit ini juga dapat terjadi pada induk sapi yang mengalami kelahiran yang sukar (dystokia) karena kurangnya kekuatan untuk mengeluarkan fetus.  Kasus yang terjadi di lapangan mulai terjadi sejak dua minggu post partus dan sapi benar-benar ambruk baru lima hari.
Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa ada beberapa teori, mengapa sapi perah yang baru melahirkan dan produksi susu tinggi sering terjadi hipocalcaemia sehingga mendorong terjadinya kasus paresis puerpuralis.
  1. Hormon parathyroid yang kadarnya mengalami penurunan dalam darah  (defisiensi), karena stres kelahiran dapat mengganggu keseimbangan mineral dalam darah khususnya kalsium disusul adanya hipokalcaemia dan selanjutnya timbul kasus paresis puerpuralis.  Berkurangnya aktivitas parathormon pada saat kelahiran disebabkan oleh defisiensi vitamin D.
  2. Stres melahirkan menyebabkan hormon tirokalsitonin yang mengatur glukosa usus dalam menyerap mineral kalsium dari pakan menurun dan mempengaruhi kadar kalsium dalam darah.  Bila hormon tirokalsitonin menurun dapat diikuti menurunnya kadar kalsium dalam darah.  Hormon tirokalsitonin atau kalsitonin dihasilkan oleh sel ultimobranchial C dari kelenjar tiroid.
  3. Waktu proses kelahiran, kalsium dibutuhkan terlalu banyak oleh air susu, khususnya dalam kolostrum.  Kebutuhan ini dapat dicukupi dari ransum pakan ternak, dari tulang dalam tubuh induk atau dari darah.  Rendahnya penyerapan kalsium dalam ransum pakan atau absorbsi kalsium dalam saluran pencernaan, dapat disebabkan adanya gangguan pada dinding usus.  Penurunan nafsu makan pada induk yang sedang  bunting mengakibatkan masuknya bahan pakan menurun, menyebabkan penyediaan kalsium dalam alat pencernaan yang rendah diikuti oleh penyerapan kalsium juga rendah.  Daya menyerap dinding usus terhadap kalsium dapat menurun pada induk sapi yang sudah tua.  Pada sapi yang masih muda 80% kalsium dalam usus dapat diserap, makin tua umurnya makin menurun daya serap usus terhadap kalsium, karena pH usus yang tinggi dan kadar lemak yang tinggi dalam makanan dapat menghambat penyerapan kalsium.  Pada sapi yang sudah tua, penyerapan kalsium hanya mencapai 15% dari kalsium yang ada dalam pakan.
  4. Persediaan kalsium dalam tulang yang dapat dimobilisasi, bervariasi menurut umur sapi.  Pada anak sapi, 6-20% kebutuhan normal akan kalsium dapat disediakan oleh tulang, sedang pada sapi yang telah tua kemampuan tulang dalam menyediakan kalsium hanya 2-5%.
  5. Vitamin D berperan dalam menimbulkan kasus paresis puerpuralis.  Gangguan terhadap produksi pro vitamin D dalam tubuh dapat mengurangi tersedianya vitamin D  dan dapat mendorong terjadinya penyakit ini, karena vitamin D mengatur keseimbangan kalsium dan posfor dalam tubuh dan proses deposisi atau mobilisasi kalsium dari tulang yang masih  muda.  Vitamin D yang aktif di dalam metabolisme kalsium dan fosfor adalah vitamin D3 (25-Hydroxycholecalciferol).
  6. Hormon estrogen dan steroid yang lain baik yang dihasilkan oleh plasenta maupun kelenjar adrenal bagian korteks dapat menurunkan penyerapan kalsium dari usus atau mobilisasi kalsium dari tulang muda.  Pada sapi bunting aktifitas estrogen plasma meningkat sampai satu bulan sebelum melahirkan.  Peningkatan berlangsung dengan cepat satu minggu sebelum melahirkan untuk kemudian menurun tajam 24 jam sebelum melahirkan.
Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya paresis puerpuralis yaitu :
  1. Produksi susu tinggi.  Sapi perah yang mempunyai produksi susu yang tinggi membutuhkan kalsium dari darah untuk produksi susu yang tinggi.  Akibatnya kadar kalsium dalam darah dalam waktu singkat menjadi rendah (hypocalcaemia), diikuti gejala paresis puerpuralis.
  2. Umur.  Produksi susu secara normal, grafiknya akan meningkat mulai laktasi keempat sampai umur-umur berikutnya dan diikuti dengan kebutuhan kalsium yang meningkat pula.  Sedangkan kemampuan  mukosa usus untuk menyerap kalsium makin tua umurnya makin menurun.
  3. Nafsu makan.  Pada kira-kira 8-16 jam sebelum partus induk sapi akan menurun nafsu makannya swampai pada tidak mau makan sama sekali.  Hal ini mengakibatkan persediaan kalsium dalam pakan yang siap dicerna menjadi menurun, akibatnya kekurangan kalsium diambil dari darah sehingga kalsium dalam darah menjadi turun dan diikuti oleh hypocalcaemia.  Penurunan nafsu makan mungkin juga disebabkan meningkatnya kadar estrogen dalam darah pada fase terakhir dari kebuntingan menjelang terjadinya kelahiran.  Keadaan ini dapat mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh sehingga kadar kalsium dalam darah merosot dari keadaan normal yaitu 9-12 mgram persen menjadi 4-5 mgram persen.
  1. Ransum makanan.  Ransum yang baik adalah bila imbangan antara Ca dan P mempunyai perbandingan 2 dan 1.  Ransum pakan semacam ini adalah ransum yang dianjurkan sapi untuk sapi perah menjelang partus.  Sapi bunting tua yang diberi ransum kaya akan Ca dan rendah P cenderung mengalami paresis puerpuralis sesudah melahirkan.
Pada awal penyakit hewan mula-mula terlihat gelisah, ketakutan dan nafsu makan menghilang.  Kemudian terlihat gangguan pengeluaran air kemih dan tinja.  Kadang-kadang terlihat tremor dan hipersensitivitas urat daging di kaki belakang dan kepala (Girindra 1988).
Hardjopranjoto (1995) mengatakan gejala pertama yang terlihat pada penderita dalah induk sapi mengalami sempoyongan waktu berjalan atau berdiri dan tidak adanya koordinasi gerakan dan jatuh.  Biasanya hewan itu selalu berusaha untuk berdiri.  Bila pada stadium ini induk sapi dapat diadakan pengobatan gejala paresis tidak akan muncul.
Bila pengobatan belum dilakukan gejala berikutnya adalah induk sapi penderita berbaring dengan pada sebelah sisinya atau pada tulang dada (sternal recumbency) dan diikuti dengan mengistirahatkan kepalanya dijulurkan ke arah atas kedua kaki depan atau kepala diletakkan disebelah sisi dari tubuh  diatas bahu/scapula (kurva S) namun ada juga yang tidak disertai kurva S.
Matanya mejadi membelalak dan pupilnya berdilatasi, kelihatan anoreksi, moncongnya kering dan suram, hewan tidak peka terhadap sakit dan suara, suhu rektal umumnya sub normal walaupun terkadang masih dalam batas normal, rumen dan usus mengalami atoni, anggota badan dingin, denyut jantung meningkat, defekasi terhambat dan anus relaksasi.
Bila pengobatan ditunda beberapa jam kemudian induk berubah menjadi tidak sadarkan diri dan kalau tidak ada pertolongan hewan bertambah depresi urat daging melemah dan berbaring dengan posisi lateral (tahap komstose).  Hewan tidak dapat bangun lagi dan akibat gangguan berbaring terus terjadi timpani.  Pulsa meningkat  (sampai lebih dari 120 x), pupil mata berdilatasi, kepekaan terhadap  cahaya menghilang dan akhirnya beberapa jam terjadi kematian.
Subronto (2001) mengatakan bahwa gambaran klinis milk fever yang dapat diamati tergantung pada tingkat dan kecepatan penurunan kadar kalsium di dalam darah.  Dikenal 3 stadia gambaran klinis yaitu stadium prodromal, berbaring (rekumbent) dan stadium koma.
  1. Stadium 1 (stadium prodromal).  Penderita jadi gelisah dengan ekspresi muka yang tampak beringas.  Nafsu makan dan pengeluaran kemih serta tinta terhenti.  Meskipun ada usaha untuk berak akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil.  Sapi mudah mengalami rangsangan dari luar dan bersifat hipersensitif.  Otot kepala maupun kaki tampak gemetar.  Waktu berdiri penderita tampak kaku, tonus otot alat-alat gerak meningkat dan bila bergerak terlihat inkoordinasi.  Penderita melangkah dengan berat, hingga terlihat hati-hati dan bila dipaksa akan jatuh, bila jatuh usaha bangun dilakukan dengan susah payah dan mungkin tidak akan berhasil.
  2. Stadium 2 (stadium berbaring/recumbent).  Sapi sudah tidak mampu berdiri, berbaring pada sternum dengan kepala mengarah ke belakang hingga dari belakang seperti huruf S.  Karena dehidrasi kulit tampak kering, nampak lesu, pupil mata normal atau membesar dan tanggapan terhadap rangsangan sinar jadi lambat atau hilang sama sekali.  Tanggapan terhadap rangsangan rasa sakit juga berkurang, otot jadi kendor, spincter ani mengalami relaksasi, sedang reflek anal jadi hilang dengan rektum yang berisi tinja kering atau setengah kering.  Pada stadium ini penderita masih mau makan dan proses ruminasi meskipun berkurang intensitasnya masih dapat terlihat.  Pada tingkat selanjutnya proses ruminasi hilang dan nafsu makan pun hilang dan penderita makin bertambah lesu.  Gangguan sirkulasi yang mengikuti akan terlihat sebagai pulsus yang frekuen dan lemah, rabaan pada alat gerak terasa dingin dan suhu rektal yang bersifat subnormal.
  3. Stadium 3 (stadium koma).  Penderita tampak sangat lemah, tidak mampu bangun dan berbaring pada salah satu sisinya (lateral recumbency).  Kelemahan otot-otot rumen akan segera diikuti dengan kembung rumen.  Gangguan sirkulasi sangat mencolok, pulsus jadi lemah (120 x/menit), dan suhu tubuh turun di bawah normal.  Pupil melebar dan refleks terhadap sinar telah hilang.  Stadium koma kebanyakan diakhiri dengan kematian, meskipun pengobatan konvensional telah dilakukan.
Gejala klinis yang ditemukan dilapangan yaitu sapi mulai ambruk pada hari Sabtu (6/5/06) tapi masih dapat berdiri kembali dan pada hari ini (Rabu, 10/5/06) tidak dapat berdiri walaupun sudah diinduksi dengan menggunakan elektrocoxer.  Temperatur tubuh 39.60 C.  Temperatur tubuh ini sedikit naik, dimana suhu tubuh untuk sapi dewasa 38.5-39.20 C.   Ekspresi  wajah sapi lesu dengan kepala terkulai di tanah  dijulurkan ke arah atas kedua kaki depan, mata terbuka lebar, pupil berdilatasi dan vasa injeksio yang kelihatan jelas pada sklera mata.
Cuping hidung kering dan kusam, pada gusi atas dan bawah serta lidah terdapat lepuh/ulkus seperti kejadian sariawan dengan mukosa mulut rose.  Auskultasi terhadap terhadap paru-paru didapatkan hasil bahwa suara vesikuler pada inspirasi lebih dominan, keadaan ini berhubungan dengan kondisi sapi yang berbaring.  Frekuensi pernafasan juga naik drastis 3 kali lipat yaitu sebanyak 106 x/menit dimana pada keadaan yang normal hanya 10-30 x/menit.
Intensitas pernafasannya dangkal dan cepat dengan dengan ritme aritmis.  Auskultasi terhadap terhadap jantung didapatkan hasil bahwa  intensitas jantung lemah, ritme reguler, frekuensi jantung 92 x/menit, frekuensi nadi 92 x/menit dan suara sistol intensitasnya lemah serta suara diastol intensitasnya lebih lemah daripada suara sistol.   Intensitas jantung yang lemah dapat menyebabkan kepenuhan dari vena jugularis.
Kondisi ini disebut sebagai pulsus jugularis yang negatif karena pada waktu sistol darah untuk sementara waktu tidak dapat masuk ke dalam atrium sehingga darah akan didorong kembali ke dalam vena jugularis.  Pulsus jugularis yang negatif ini merupakan dilatasi dari vena jugularis pada waktu presistol yaitu sebelum jantung berdenyut.
Kejadian ini akan lebih jelas pada stenosis valvula tricuspidalis, pada heart block dan pada pericarditis exudativa.  Pemeriksaan regio abdomen secara inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi didapatkan hasil bahwa suara peristaltik lambung tidak ada, palpasi rumen keras, uji tinju yang dilakukan mendapatkan suara peristaltik yaitu air dan frekuensinya hanya 3 x/5 menit, dimana dalam keadaan normal suara ini akan terdengar 5-8 x/menit.  Palpasi rumen yang keras dan tidak adanya suara peristaltik menunjukkan bahwa tidak adanya aktifitas mekanik di dalam saluran pencernaan.
Aktifitas mekanik merupakan suatu keadaan yang menggambarkan kontraksi sirkuler dinding usus.  Kontraksi ini bertujuan untuk menggerakkan bahan-bahan yang akan dicerna disepanjang saluran pencernaan, untuk mencampur getah pencernaan dengan makanan dan membawa zat makanan hasil pencernaan kearah membran mukosa untuk penyerapan berikutnya.  Pada sapi yang ditemui dilapangan kondisi ini tidak ditemukan, hal ini karena kejadian kembung yang terjadi pada sapi.
Kembung pada sapi ini sebagai akibat penumpukan gas dalam lambung (rumen) karena tidak adanya aktivitas mekanis sehingga rumen akan penuh dengan makanan yang tidak tercerna.  Kondisi ini membawa akibat kosongnya usus dan tidak adanya penyerapan makanan.  Pada pemeriksaan daerah anus dan uroginital didapatkan hasil bahwa daerah sekitar anus kotor karena feses yang keluar lembek dan reflek spincter ani  yang tidak bagus.
Beberapa penyakit komplikasi dapat timbul mengikuti kejadian hypocalcaemia, karena kondisi penderita yang terus berbaring diantaranya  :
1. Dekubites, kulit lecet-lecet.  Luka ini disebabkan karena infeksi yang berasal dari lantai, dapat menyebabkan dekubites.
2. Perut menjadi gembung atau timpani, karena lantai yang selalu dingin mendorong terjadinya penimbunan gas dalam perut pada penderita yang selalu berbaring.
3. Pneumonia.  Kerena terjadi regurgitasi pada waktu memamah biak disertai adanya paralisa dari laring dan faring.  Sewaktu menelan makanan, sebagian makanan masuk ke dalam paru-paru dan dpat diikuti oleh pneumonia pada penderita.
Komplikasi kasus yang  ditemukan  dilapangan yaitu terjadinya lecet-lecet yang terjadi di kulit sebagai akibat adanya infeksi yang berasal dari lantai karena hewan lama berbaring (dekubitus) dan terjadinya pneumonia karena makanan menumpuk di dalam rumen sebgai akibat tidak adanya tonus dalam dalam rumen dan gerakan peristaltik usus peristaltik.
Kejadian pneumonia ini juga sebagai akibat sapi terlalu lama berbaring di lantai sehingga banyak terjadi penimbunan gas, jika kondisi berlangsung lama akan menyebabkan paralisa laring dan faring sehingga sapi akan mengalami kesusahan pada waktu regurgitasi pada waktu memamahbiak akibatnya sebagian makanan akan masuk ke dalam paru-paru.
Diagnosa banding perlu diadakan karena banyak penyakit atau keadaan yang dapat menyerupai paresis puerpuralis, sehingga dapat mengaburkan diagnosa yang bisa terjadi sebelum atau sesudah partus.
Jika kejadian kelumpuhan terjadi sebelum partus kemungkinan penyakit pembandingnya diantaranya metritis septika, akut mastitis, milk fever dan hidrops, sedangkan jika kelumpuhan setelah melahirkan kemungkinan penyakit pembandingnya yaitu calving paralysis, calving injuri, ruptura ligamen sendi belakang, septic metritis&vaginitis, ruptura uteri, paralysis obturatorius, ruptura tendon dan otot, kekejangan otot, toxemia, arthritis akut, dan fraktura pelvis.
Prognosa terhadap kasus hypocalcaemia yaitu fausta-infausta.  Fausta jika kejadian hypocalcaemia cepat ditangani (95% sembuh) dan infausta jika penanganan yang lambat dan pengobatan pertama yang tidak menunjukkan perubahan ke arah kondisi yang membaik.  Kecepatan dan ketepatan diagnosis serta pengobatan sangat membantu kesembuhan .  kesembuhan spontan hampit tidak dimungkinkan.
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan terhadap sapi ini adalah melakukan pemeriksaan darah.  Darah dapat diambil lewat vena jugularis.  Darah yang diambil diperiksa terhadap kadar kalsium darah.
Kalsium dalam serum dapat diukur dengan metoda sangat sederhana sampai metoda yang mutakhir.  Yang termasuk sederhana ialah dengan metoda Clark&Collib yang menggunakan KmnO4 untuk titrasi.  Lainnya ialah dengan metoda “kolorimetri sederhana”, berdasarkan intensitas warna yang kemudian dibandingkan dengan warna standar.
Sekarang sering dilakukan uji untuk menentukan kadar kalsium mengion.  Dalam hal ini dipakai suatu elektroda yang bersifat khas untuk ion kalsium.  Lain dari itu kadar kalsium dalam darah dapat pula ditentukan dengan “Atomic absorption spectroscopy” (Girindra 1988).
Subronto (2001) mengatakan bahwa pemeriksaan kadar kalsium dalam darah dilapangan adalh menurut cara Herdt (1981) dimana peralatan yang dibutuhkan yaitu tabung rekasi 12 ml dengan kalibrasi 2,3,5,7 dan 10 ml, karutan EDTA 1,9%, alat suntik tuberkulin dan water bath.  Cara pemeriksaannya yaitu ke dalam semua tabung reaksi dimasukkan EDTA sebanyak 0.1 ml.  Darah sebanyak 35 ml diambil dari vena jugularis dengan cepat dan dimasukkan ke dalam 5 tabung sampai pada batas kalibrasi.
Setelah ditutup dikocok kuat-kuat dimasukkan ke dalam water bath dengan suhu 1150 F (46.10 C) dan diamati selama 15 dan 20 menit.  Setelah waktu tersebut rak diangkat dan jumlah tabung yang darahnya menggumpal dihitung.  Pada kasus di lapangan tidak dilakukan pengecekan darah untuk melihat kadar Ca, Mg dan P.
Terapi yang dilakukan sudah dilakukan dua kali, dimana pengobatan pertama dilakukan pada hari sabtu (6/05/06) disaat pada sapi baru ambruk.  Obat-oabtan yang diberikan terdiri dari Calci TAD® 50 (3.10 g Ca-glukonas, 4.29 g Ca boroglukonas, 1.32 g Ca-Hydroxie, 6.5 g MgCl-6H2O, 0.6 g 2 aminoethyl dyhidrogen phospatase, 0.1 g methyl 4-hydrogen zinx) dosis 150 cc SC, Hematophan® (Tiap ml mengandung natrium kakodilat 30 mg, besi (III) ammonium sitrat 20 mg, metionin 10 mg, histidin 5 mg, triptopan 2.5 md dan vitamin B12 10 mcg) 20 cc IM dan Novaldon®  (Methamphiron 250 mg, Pyramidon 50 mg, lidocaine 15 mg) 25 cc IM.  Setelah pengobatan ini sapi menunjukkan kondisi yang agak membaik, tetapi pada hari selasa (9/5/06) sapi ambruk kembali dan dilakukan tretmen ulang dengan menggunakan Calci TAD® 50 (3.10 g Ca-glukonas, 4.29 g Ca boroglukonas, 1.32 g Ca-Hydroxie, 6.5 g MgCl-6H2O, 0.6 g 2 aminoethyl dyhidrogen phospatase, 0.1 g methyl 4-hydrogen zinx) dosis 150 cc SC, metabolase® (Mengandung  I-carnitine  hydrochloride,  Thioctic acid,  Pyridoxine  hydrochloride,  Cyanocobalamine,  d,I-acetylmethionine,  I-argin- ine,  I-ornithine  hydrochloride,  I-citruline,  I-lysin  hydrochloride,  Glysine,  Taurine, Aspartic  acid,  Glutamic  acid,  Fruktosa,  Sorbitol) sebanyak 250 cc SC.
Pada pengobatan kedua ini sapi tidak menunjukkan perubahan dan kondisinya cenderung menurun.  Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa pengobatan pada paresis puerpuralis ditujukan untuk mengembalikan kadar kalsium yang normal dalam darah.  Pengobatan biasanya dipakai preparat kalsium seprti kalsium boroglukonat yang terdiri dari kalsium boroglukonat 20% sebanyak 250-500 ml diberikan intravena atau 500 ml intravena dikombinasikan dengan 250 ml subkutan.  Penyuntikan intravena dengan menggunakan jarum 16 g disuntikkan selama 10-15 menit dimaksudkan agar penyerapan lebih cepat sedang penyuntikan subkutan bila dikehendaki penyerapannya lambat dan dapat memperbaiki turgor kulit.
Dalam waktu yang sangat singkat kadang-kadang sebelum penyuntikan selesai dilakukan penderita sudah sanggup berdiri.  Apabila setelah dilakukan penyuntikan dengan sediaan kalsium belum memberikan hasil penderita perlu dipacu agar bangun dengan jalan dicambuk atau kalau ada dengan electric coaxer.  Electric coaxer dapat pula dipakai untuk mengetahui tingkat paresis yang terdapat pad anggota gerak (Subronto 2001).
Bila kasus ini disertai hipomagnesemia sebaiknya disuntik dengan kombinasi kalsium boroglukonat dan magnesium boroglukonat yang terdiri dari kalsium boroglukonat 200 gram, magnesium boroglukonat 50 gram dan aquades sampai 1000 ml selanjutnya dibuat larutan steril.  Dosis pemberian yaitu 200-500 ml secara intravena.   Pada kasus paresis puerpuralis yang disertai ketosis maka pengobatan dilakukan dengan pemberian kalsium boroglukonat ditambah dekstrose 5% sebanyak 250-500 ml secara intravena.
Bila pengobatan ini tidak berhasil dapat dicoba pengobatan dengan menggunakan pemompaan (insufflasi) udar ke dalam keempat kwartir ambing hingga tekanan intra-mamer meningkat dan menghentikan pengeluaran air susu berikutnya yang berarti menghentikan penghentian pengurasan unsur kalsium ke dalam ambing.
Pengobatan cara ini dapat diulangi setiap 6-8 jam.  Pengobatan dengan cara ini terbukti telah mengurangi kematian sebesar 15%.  Untuk mencegah terjadinya komplikasi seperti dekubites, gembung perut atau pneumonia maka induk penderita sebaiknya selalu dibolak-balik dan diberikan jerami yang cukup tebal sebagai alas berbaring.
Evaluasi pengobatan dengan penyuntikan kalsium ini diajurkan mendengarkan denyut jantung dengan stetoskop.  Kalau tidak digunakan stetoskop, secara visual dapat diikuti dengan melihat reaksi penderita, kecepatan pulsus venosus, gerak bola mata, dan tidaknya eksitasi.
Jika terjadi keracunan sediaan kalsium yang harus segera dilakukan adalah menghentikan penyuntikan, memberikan masase jantung, memberikan sediaan yang berefek pada jantung (MgSO4, atropin), dan sediaan yang dapat mengikat (chelating agent) kalsium misalnya Na-EDTA.
Pencegahan terhadap kejadian milk fever sangat dipengaruhi oleh jumlah kalsium yang dapat diserap dan bukan pada unsur fosfor atau imbangan Ca:P.  Pemberian kalsium hendaknya sekedar untuk memelihara fungsi faali (2.5 g/100 lb).  Yang ideal jumlah Ca dalam pakan sehari adalah 20 gram saja.
Banyak sapi yang mengalami milk fever oleh pemberian kalsium yang tinggi, tidak terganggu oleh pembatasan pemberian unsur tersebut.  Di daerah yang cukup kandungan kalsiumnya dalam pakan sehari-hari pemberian mineral blok yang mengandung kalsium-fosfat tidak dianjurkan untuk sapi yang bunting sarat.
Setelah melahirkan pemberian garam kalsium harus ditingkatkan.  Pemberian vitamin D2 20-30 juta IU/hari 3-8 hari pre partus mampu menurunkan kejadian milk fever.  Vitamin D3 sebanyak 10 juta IU yang disuntikkan intravena sekali saja 28 hari sebelum malahirkan dapt pula menurunkan kejadian milk fever tanpa diikuti deposisi kalsium dialat-alat tubuh.


More

Whats Hot